|
Bab 4
Para Ilmuwan Menyaksikan Ayat-ayat Allah
Liputan kita sejauh ini memperlihatkan bahwa sifat-sifat
alam semesta yang ditemukan dengan ilmu pengetahuan menunjukkan keberadaan
Allah. Ilmu pengetahuan mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa alam
semesta memiliki Pencipta dan bahwa Pencipta ini sempurna dalam hal kekuasaan,
kebijaksanaan, dan pengetahuan. Agamalah yang memperlihatkan jalan kepada
kita untuk mengenal Allah. Karena itu, bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan
adalah metode yang kita gunakan untuk melihat dan menyelidiki dengan lebih
baik kenyataan-kenyataan yang disebut oleh agama. Namun demikian, sekarang,
beberapa ilmuwan yang melangkah maju atas nama ilmu pengetahuan mengambil
sudut pandang yang seluruhnya berbeda. Dalam pandangan mereka, penyelidikan
ilmiah tidak menyiratkan ciptaan Allah. Mereka justru meluncurkan pemahaman
ilmu pengetahuan yang ateistik dengan mengatakan bahwa mustahil menjangkau
Allah melalui data ilmiah: mereka mengklaim bahwa ilmu pengetahuan dan
agama merupakan dua pandangan yang berbenturan.
Sesungguhnya, pemahaman ilmu pengetahuan yang ateistik ini
belum lama. Sampai beberapa abad yang lalu, ilmu pengetahuan dan agama
tidak pernah dikira berbenturan satu sama lain, dan ilmu pengetahuan diterima
sebagai metode pembuktian keberadaan Allah. Pemahaman ilmu pengetahuan
yang disebut ateistik ini baru berkembang sesudah filsafat materialis
dan positivis melanda dunia ilmui pengetahuan pada abad ke-18 dan ke-19.
Terutama setelah Charles Darwin merumuskan teori evolusi
pada 1859, kalangan yang berpandangan materialistik mulai secara ideologis
membela teori ini, yang mereka lihat sebagai altertnatif terhadap agama.
Teori evolusi berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh suatu
pencipta, tetapi menjadi ada secara kebetulan. Akibatnya, agama disangka
bertentangan tajam dengan ilmu pengetahuan. Para peneliti dari Britania
yaitu Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln berpendapat mengenai
persoalan ini bahwa satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan
belum bercerai dari agama dan sebenarnya merupakan bagian darinya, dengan
maksud utama untuk melayaninya. Namun dengan munculnya Darwin, ilmu pengetahuan
menjadi terlepas dari agama dan menetapkan diri sebagai pesaing mutlaknya
dan alternatif terhadap agama. Tiga peneliti ini akhirnya menyimpulkan
bahwa karenanya manusia terpaksa membuat pilihan antara keduanya.23
Sebagaimana yang kami nyatakan tadi, "jurang" antara ilmu
pengetahuan dan agama bersifat ideologi sepenuhnya. Beberapa ilmuwan,
yang dengan serius mempercayai materialisme, mengkondisikan mereka sendiri
untuk membuktikan bahwa alam semesta tidak mempunyai pencipta dan mereka
membuat berbagai teori dalam konteks ini. Teori evolusi adalah yang paling
terkenal dan paling penting di antara berbagai teori itu. Di bidang astronomi
pun jelas ada teori yang dikembangkan seperti "teori keadaan-tetap" atau
"teori kekacaubalauan". Akan tetapi, semua teori yang menolak penciptaan
ini lumpuh oleh karena ilmu pengetahuan itu sendiri, sebagaimana yang
telah kami tunjukkan dengan jelas di bab-bab terdahulu.
Dewasa ini, para ilmuwan yang masih mempertahankan teori-teori
ini dan bersikeras menolak semua hal yang religius ialah orang-orang yang
dogmatik dan fanatik, yang mengkondisikan mereka sendiri tidak untuk mengimani
Allah. Seorang evolusionis dan zoolog terkenal, D.M.S. Watson mengakui
dogmatisme ini ketika ia menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya menerima
teori evolusi:
Kalau begitu, ini akan menyajikan kesejajaran dengan teori
evolusi itu sendiri, teori yang secara universal diterima, bukan karena
bisa dibuktikan dengan bukti yang secara logis benar, melainkan karena
satu-satunya alternatif, ciptaan istimewa, jelas-jelas sulit dipercaya.24
Apa yang dimaksud oleh Watson dengan "ciptaan istimewa" adalah
ciptaan Allah. Sebagaimana yang diakui, para ilmuwan ini menganggapnya
"tak bisa diterima". Namun mengapa? Apakah karena ilmu pengetahuan mengatakannya
demikian? Sebenarnya tidak. Sebaliknya, ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran
penciptaan. Satu-satunya alasan mengapa Watson menganggap fakta ini tak
dapat diterima adalah karena ia telah mengkondisikan diri untuk menyangkal
keberadaan Allah. Semua evolusionis lain mengambil sikap yang sama.
Para evolusionis tidak bersandar pada ilmu pengetahuan, tetapi
filsafat materialisme dan mereka menyelewengkan ilmu pengetahuan untuk
membuatnya cocok dengan filsafat ini. Seorang ahli genetika dan evolusionis
terkenal dari Universitas Harvard, Richard Lewontin, mengakui kebenaran
ini:
Ini bukan bahwa metode dan institusi ilmu pengetahuan agak
memaksa kita untuk menerima penjelasan materialisme tentang dunia fenomenal,
melainkan, sebaliknya, bahwa kita terpaksa oleh kesetiaan apriori kita
terhadap penyebab materialis untuk membuat alat penyelidikan dan perangkat
konsep yang menghasilkan penjelasan materialis, tidak peduli betapa konter-intuitifnya,
tidak peduli betapa membingungkannya hal yang tak berawal. Lagipula, materialisme
itu mutlak, sehingga kita tidak mungkin membiarkan Kaki Ilahi di pintu
tersebut.25
Sebaliknya, dewasa ini, seperti dalam sejarah, terdapat ilmuwan-ilmuwan
yang mempertegas keberadaan Allah, yang berlawanan dengan kelompok materialis
dogmatis ini, dan mengakui ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk mengenal
Dia. Beberapa kecenderungan yang berkembang di A.S. semisal "Kreasionisme"
atau "Desain Cerdas" membuktikan dengan bukti ilmiah bahwa semua makhluk
hidup diciptakan oleh Allah.
Ini memperlihatkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan dan
agama bukan sumber informasi yang bertentangan, melainkan bahwa ilmu pengetahuan
justru merupakan metode yang mengesahkan kebenaran mutlak yang disediakan
oleh agama. Perseteruan antara agama dan ilmu pengetahuan hanya berlangsung
pada agama tertentu yang mengambil beberapa unsur takhyul di samping sumber
ilahi. Akan tetapi, tentu saja ini bukan persoalan bagi Islam, yang hanya
bergantung kepada wahyu murni dari Allah. Lebih-lebih, Islam terutama
mendorong penyelidikan ilmiah, dan mengumumkan bahwa penyelidikan alam
semesta merupakan metode untuk merambah ciptaan Allah. Ayat Al-Qur'an
berikut ini menyinggung persoalan ini:
Tidakkah mereka melihat langit di atas
mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya?
Dan bumi-Kami bentangkan, dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung
yang tegak kuat dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai tanaman yang indah
berpasang-pasang. ... Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah,
dan dengan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen;
dan pohon kurma yang tinggi, dengan tunas-tunas tangkai saling terjalin.
(Surat Qaaf, 6-7, 9-10)
Sebagaimana yang tersirat pada ayat di atas, Al-Qur'an selalu
mendorong orang-orang untuk berpikir, bernalar, dan merambah dunia tempat
tinggal mereka. Ini karena ilmu pengetahuan mendukung agama, menyelamatkan
individu dari kejahiliyahan, dan menyebabkannya untuk berpikir dengan
lebih sadar; ilmu pengetahuan membuka lebar-lebar dunia pemikiran dan
membantu orang mencerap ayat-ayat Allah yang berbukti sendiri di alam
semesta. Seorang fisikawan terkemuka Jerman, Max Planck, mengatakan bahwa
"semua orang yang, apa saja bidangnya, mengkaji ilmu pengetahuan secara
sungguh-sungguh itu akan membaca frase berikut ini di pintu kuil ilmu
pengetahuan: "beriman". Menurut dia, iman merupakan sifat dasar ilmuwan.26
Semua persoalan yang kita bahas sejauh ini tiba pada kesimpulan
bahwa keberadaan alam semesta dan semua makhluk hidup tidak dapat dijelaskan
dengan kebetulan. Banyak ilmuwan yang berwibawa di dunia ilmu pengetahuan
yang telah mempertegas dan masih mempertegas kenyataan besar ini. Semakin
banyak kita belajar tentang alam semesta, semakin tinggi penghargaan kita
kepada tatanan yang tiada cacat ini. Semua detail yang baru ditemukan
itu mendukung penciptaan dengan cara yang tak terbantah.

Sir Isaac Newton
|

Max Planck |
Mayoritas besar fisikawan modern menerima fakta penciptaan
seperti yang kita pancangkan di abad ke-21. David Darling juga mempertahankan
bahwa yang ada di permulaan bukan waktu, bukan ruang, bukan zat, bukan
energi, atau pun noktah kecil atau rongga. Suatu pergerakan yang agak
cepat dan fluktuasi dan getaran yang kalem terjadi. Darling berakhir-kalam
dengan mengatakan bahwa bila tutup kotak kosmik terbuka, maka sulur keajaiban
penciptaan akan tampak dari bawahnya.27
Di samping itu, hampir semua pendiri berbagai cabang ilmu
pengetahuan beriman kepada Allah dan kitab suci-Nya. Fisikawan terbesar
dalam sejarah, Newton, Faraday, Kelvin dan Maxwell merupakan sedikit contoh
ilmuwan semacam itu.
Pada masa Isaac Newton, fisikawan besar, para ilmuwan percaya
bahwa pergerakan benda-benda langit dan planet-planet bisa dijelaskan
dengan hukum yang berbeda-beda. Namun demikian, Newton percaya bahwa pencipta
bumi dan angkasa adalah sama dan, karena itu, bisa dijelaskan dengan hukum
yang sama. Ia memperluas pandangan ini di bukunya dengan mengatakan bahwa
sistem matahari dan planet yang sempurna hanya bisa bertahan di bawah
kendali dan dominasi sesuatu yang berkuasa dan bijaksana.28
Telah terbukti, ribuan ilmuwan yang telah melakukan penelitian
di bidang fisika, matematika, dan astronomi sejak Zaman Pertengahan semuanya
sepakat pada gagasan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Pencipta tunggal
dan selalu berfokus pada titik yang sama. Pendiri astronomi fisika, Johannes
Kepler, menyatakan keimanannya yang kuat kepada Tuhan di salah satu bukunya
yang menyatakan bahwa kita, sebagai hamba Tuhan yang miskin dan serba
kekurangan, harus memperhatikan besarnya kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan
dan berserah diri kepada-Nya.29
Fisikawan besar, William Thompson (Lord Kelvin), yang mendirikan
termodinamika, ialah juga seorang Nasrani yang beriman kepada Allah. Ia
menentang keras-keras teori evolusi Darwin dan menolaknya sama sekali.
Ia menjelaskan secara singkat sebelum kematiannya bahwa ketika memperhatikan
asal-usul alam semesta, tentulah ilmu pengetahuan mempertegas keberadaan
Sang Mahakuasa.30
Salah seorang profesor fisika di Universitas Oxford, Robert
Mattheus menyatakan fakta yang sama di bukunya yang terbit pada 1992 yang
menjelaskan bahwa molekul DNA diciptakan oleh Tuhan. Mattheus menyatakan
bahwa semua taraf ini berproses dengan keserasian yang sempurna dari sel
tunggal sampai bayi hidup, lalu menjadi anak kecil, dan akhirnya menjadi
dewasa. Semua peristiwa ini hanya bisa dijelaskan sebagai keajaiban, sebagaimana
taraf-taraf biologis lainnya. Mattheus menanyakan bagaimana organisme
yang rumit sesempurna itu bisa muncul dari sel yang mungil dan sesederhana
itu dan bagaimana MANUSIA yang bermartabat diciptakan dari sebuah sel
yang bahkan lebih kecil daripada titik pada huruf i. Akhirnya, ia menyimpulkan
bahwa ini bukan lain kecuali mukjizat.31
Sebagian ilmuwan lain yang menerima bahwa alam semesta diciptakan
oleh Pencipta dan yang terkenal karena kontribusi mereka (dalam kurung)
ialah:
Robert Boyle (Bapak Kimia Modern)
Iona William Petty (terkenal karena kajiannya tentang
Statistika dan Ekonomi Modern)
Michael Faraday (salah seorang dari fisikawan terbesar
sepanjang masa)
Gregory Mendel (Bapak Genetika; ia membatalkan Darwinisme
dengan penemuannya dalam Genetika)
Louis Pasteur (nama terbesar dalam Bakteriologi; ia menyatakan
perang terhadap Darwinisme)
John Dalton (Bapak Teori Atom)
Blaise Pascal (salah seorang dari matematikawan terpenting)
John Ray (nama terpenting dalam Sejarah Alam Britania)
Nicolaus Steno (stratiografer terkenal yang menyelidiki
lapisan bumi)
Carolus Linnaeus (Bapak Klasifikasi Biologis)
Georges Cuvier (pendiri Anatomi Komparatif)
Matthew Maury (pendiri Oseanografi)
Thomas Anderson (salah seorang dari pelopor di bidang
Kimia Organik)
23.Michael Baigent, Richard Leigh,
Henry Lincoln, The Messianic Legacy, Gorgi Books, Londres: 1991, hlm. 177-178
.
24. D.M.S. Watson, "Adaptation", Nature, no. 124, hlm. 233.
25. Richard Levontin, The Demon-Haunted World, The New
York Review of Books - 9 janvier 1997, hlm. 28.
26. J. de Vries, Essential of Physical Science, Wm.B.Eerdmans
Pub.Co., Grand Rapids, SD 1958, hlm. 15.
27. Timothy R. Stout, Tim Stout's Creation-Science Page.

28. Ibid. 
29. Umit Simsek, Big Bang: Kainatin Dogusu (Big Bang: The
Birth of the Universe), hlm. 55 
30. David Darling, Deep Time, Delacorte Press, 1989, New
York
31. Robert Matthews, Unravelling the Minde of God, London
Bridege, July, 1995, hlm. 8
|