Terobosan Baru: Sekolah-Sekolah di Georgia (Amerika Serikat) Diizinkan Mengajarkan Penciptaan

HARUN YAHYA

 

Darwinisme adalah teori yang didukung demi mempertahankan filsafat materialis. Inilah alasan utama di balik kegigihan para pendukung Darwinisme dalam menolak bantahan terhadap teori mereka. Sudah sejak lama, khususnya di dunia Barat, mereka yang menyampaikan sanggahan terhadap teori evolusi telah diserang dengan berbagai cara: media masa yang memojokkan mereka, mereka diberhentikan dari pekerjaan mereka di sekolah-sekolah, pengadilan yang melarang pengajaran teori-teori selain evolusi.

Tapi bukti-bukti ilmiah kini tidaklah berada di pihak para evolusionis, karenanya kini mereka mulai kehilangan dasar berpijak mereka. Selama beberapa dekade terakhir, bantahan terhadap dogma Darwinis telah dilontarkan oleh bebagai kalangan masyarakat ilmiah. Hal ini memunculkan pemahaman dan sadarnya masyarakat tentang kepalsuan teori evolusi dan bukti-bukti yang membenarkan penciptaan. Selama beberapa tahun terakhir, kesadaran ini berpengaruh pada sistem pendidikan di Amerika Serikat. Pelarangan dogmatis terhadap pengajaran “Kreasionisme” – yakni pandangan bahwa kehidupan di Bumi adalah hasil karya cipta Sang Pencipta – kini dipertanyakan dan dihapuskan di sejumlah negara bagian.

Terobosan terkini yang meruntuhkan tembok penghalang bentukan dogmatisme Darwinis ini terjadi di Georgia, salah satu negara bagian di wilayah tenggara Amerika Serikat. Situs ABC News melaporkan berikut ini:

Dewan pengurus distrik sekolah kedua terbesar di Georgia melakukan pemungutan suara pada Kamis malam guna memperbolehkan para guru untuk mengajarkan kepada para siswa beragam pandangan tentang asal-usul kehidupan, termasuk kreasionisme. Usulan tersebut, yang disetujui secara bulat oleh dewan pengurus sekolah di wilayah Cobb, menyatakan bahwa distrik meyakini bahwa “perbincangan seputar berbagai pandangan yang diperselisihkan tentang berbagai masalah akademis adalah unsur yang diperlukan dalam rangka memberikan pengajaran yang berimbang, termasuk pelajaran tentang asal-usul spesies.”…

Para pendukung usulan ini, termasuk seorang murid sekolah menengah bernama Michael Gray, mengatakan keputusan yang dipilih dewan pengurus tersebut mendorong adanya kebebasan akademis. “Saya harus membuat tulisan tentang evolusi dan ada hal-hal yang sebenarnya dapat saya bantah atau kemukakan alasan alternatifnya,” kata Gray, yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Paus. “Saya ingin rekan-rekan saya sesama siswa diberi pilihan dan tidak diberi tahun bahwa teori evolusi adalah kebenaran mutlak.” 1

Kalangan Darwinis sangat merasa terganggu dengan keputusan ini. Yang sungguh aneh adalah bahwa mereka berusaha menempuh jalur pengadilan untuk menghentikan kresionisme, dan bukan jalur intelektual. Sebagaimana laporan ABC News: Barry Lynn, direktur pelaksana pada Americans United for Separation of Church and State (Persekutuan Amerika bagi Pemisahan Agama dan Negara) mengatakan bahwa mereka akan menuntut dewan pengurus wilayah Cobb. “Ini seolah-olah wilayah Cobb tengah memasang papan raksasa bertuliskan ‘tuntutlah saya’, tambahnya. Apa yang tidak disadari oleh Lynn adalah fakta bahwa ia menggunakan cara yang sama sebagaimana peristiwa pengadilan terkenal yang terjadi berabad-abad silam: Upaya untuk membungkam gagasan ilmiah melalui “jalur hukum atau pengadilan”.

Pengadilan ini telah gagal mempertahankan dogma yang diyakininya, yakni model alam semesta Ptolemik. Kalangan Darwinis pun akan mengalami kegagalan serupa dalam upaya mereka mempertahankan mitos bernama evolusi.


(1) abcnews.go.com/wire/SciTech/ap20020926_2544.html

© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com