Sekali Lagi,
Apa yang Disebut sebagai ‘DNA Sampah’
Ternyata Mempunyai Fungsi

HARUN YAHYA

 

‘DNA Sampah’ adalah salah satu mitos yang ditebarkan oleh pengikut Darwin dalam literatur biologi. Istilah tersebut mengacu kepada bagian dari DNA yang dianggap tidak mempunyai fungsi sama sekali. Evolusionis menggunakan anggapan ini untuk mendukung pandangan keliru mereka bahwa manusia dan makhluk hidup yang lain adalah hasil dari proses evolusi yang buta dan kebetulan.

Namun, penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa istilah ‘DNA Sampah’ adalah sangat menyesatkan. Fungsi-fungsi penting dari bagian yang disebut ‘sampah’ dari DNA ini telah ditemukan sehingga konsep ‘DNA Sampah’ hanya menunjukkan perwujudan dari ketidakpedulian.

Pukulan pada mitos ‘DNA Sampah’ datang baru-baru saja dari sebuah penelitian tentang protein yang mengandung cohesin. Dalam Science Daily, pada sebuah artikel bertajuk “Essential Cell Division 'Zipper'Anchors To So-Called Junk DNA” (Protein penting dalam pembelahan sel berikatan dengan apa yang disebut sebagai ‘DNA Sampah’), dilaporkan hal berikut ini:

Dalam sebuah penelitian baru pada Nature edisi 29 Agustus, peneliti pada Ehe Wistar Institute mengidentifikasi sebuah kompleks protein yang mengandung cohesin yang mengubah bentuk chromatin agar cohesin dapat menempel pada DNA. Mereka juga mengidentifikasi lokasi penempelan cohesin pada genom manusia. Tanpa mereka sangka, tempat penempelan itu adalah sekuen DNA berulang yang ditemukan tersebar di dalam genom manusia yang sebelumnya belum diketahui fungsinya. Sekuen DNA ini, dikenal sebagai sekuen berulang Alu, dapat ditemukan hampir di setiap tempat pada sekuen panjang dari genom manusia yang tidak diketahui mengontrol fungsi genetik secara langsung. Karena tanpa fungsi genetik yang jelas itulah ia disebut ‘DNA Sampah’.

“Satu hal yang menarik bagi kami adalah ada 500 ribu hingga 1 juta sekuen berulang Alu di dalam genom manusia, “ kata Ramin Shiekhattar, Ph.D., seorang professor pada The Wistar Institute dan penulis senior pada penelitian itu. “Sekuen ini sangat biasa ditemui, dan sangat masuk akal jika salah satu fungsinya adalah menjadi tempat penempelan dari protein pengikat, cohesin, agar DNA yang sedang digandakan tetap bersatu hingga saatnya dipisahkan. Tempat pengikatan yang banyak tentunya diperlukan agar sistem seperti ini bekerja. Tempat itu tidak mungkin sekuen yang unik.”1

Konsep ‘DNA Sampah’ sangat mirip dengan konsep ‘organ peninggalan’, argumentasi basi yang diajukan oleh pengikut Darwin lebih dari seabad yang lalu. Konsep itu sebenarnya merupakan cerita yang menarik: sebagaimana kata para evolusionis, ada di dalam tubuh beberapa makhluk sejumlah organ yang tidak berfungsi. Ini diwariskan dari nenek moyang dan secara perlahan menjadi ‘peninggalan’ karena tidak dipakai.

Keseluruhan anggapan itu sangat tidak ilmiah, dan sepenuhnya berdasarkan pada kurangnya pengetahuan. Organ ‘peninggalan’ ini pada kenyataannya adalah organ yang fungsinya belum diketahui.

Petunjuk yang paling baik dari hal ini adalah penurunan sedikit demi sedikit tapi pasti jumlah ‘organ peninggalan’ dari daftar panjang para evolusionis.

‘DNA Sampah’ adalah versi moderen dari anggapan lama tentang ‘organ peninggalan’. Dan ini pun bercacat seperti anggapan tersebut.

Yang benar adalah tidak ada ‘organ peninggalan’ ataupun ‘DNA Sampah’ di dalam tubuh manusia karena manusia tidak berevolusi dari makhluk lain buah dari suatu kebetulan, tetapi diciptakan dalam bentuknya yang sempurna dan komplit sebagaimana sekarang.



(1) http://www.sciencedaily.com/releases/2002/08/020830072103.htm

© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com